Masalah Itu Baru Tapi Bajakan Jadul Jaga Gengsi

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Microsoft Windows XP
Melansir foto dari extremetech tentang Presiden Rusia Vladimir Putin dengan komputer Windows XP. Ini sebetulnya bukan berita baru, yakni sekitar akhir tahun 2019 lalu.

Namun ada yang menggelitik ketika portal berita lain menyebutkan bahwa Putin tidak benar-benar menggunakan Windows XP. Portal berita tersebut mengaitkan intrik politik dan perang pengaruh antar kedua negara; Rusia dan Amerika. 

Yang pasti dalam foto itu Vladimir Putin duduk berhadapan dengan komputer. Di depannya terlihat sistem operasi Windows XP yang dimaklumi bersama sudah sangat jadul.

Terkait motif di balik foto tersebut admin blog tidak punya kepentingan apapun. Dan tidak juga mendukung analisa portal berita manapun.

Yang tertulis dalam artikel ini hanya opini pribadi penulis yang menyoroti sesuatu dari sudut pandang lain. Saya mengira dengan melihat foto tersebut seharusnya bisa merubah cara pandang kita dalam menggunakan teknologi. 

Terutama bagi teman-teman yang baru belajar komputer secara otodidak dari nol. Adakah yang mengenal sistem operasi Windows XP dan masih menggunakannya sampai sekarang?

Duhai Apa Yang "Merasukimu" Presiden Vladimir Putin?

Melansir dari laman Microsoft disebutkan bahwa support untuk Windows XP berakhir 8 April 2014. Sejak itu Microsoft sudah tidak lagi menyediakan security updates atau dukungan teknis untuk sistem operasi yang sudah beroperasi selama 12 tahun tersebut.

Sedangkan bulan Januari 2020 kemaren Microsoft baru saja mencabut supportnya untuk OS Windows 7. Sebuah sistem operasi penerus Windows XP setelah Windows Vista yang dirilis pada tahun 2009. 

Bisa dibayangkan kan jika benar seorang Putin pada bulan Desember tahun 2019 dikabarkan masih menggunakan sistem operasi yang supportnya sudah lebih dulu "tewas" dibandingkan Windows 7?

Berarti, Presiden Putin seolah-olah mampu untuk "budeg" selama bertahun-tahun dari ocehannya Bill Gates setiap kali merilis pemberitahuan berakhirnya support untuk salah satu sistem operasinya.

Padahal Microsoft menganjurkan agar meng-upgrade komputer dengan OS Windows 8 atau Windows 10 atau mungkin sebentar kemudian akan muncul versi Windows 21 (Baca dengan bahasa Dermayu=Windows Selikur).

Mungkin kalau fans Microsoft mau iseng bikin konten vlog kekinian di negeri +62. Bisa jadi  beredar video Putin dengan latar lagu ikut meramaikan per-youtube-an di Indonesia. Dan lagu yang menjadi back soundnya bisa ditebak. Ya, yang ada kata-kata "apa yang merasukimu" yang sempat nge-hits itu.

Software Itu Asalkan Sama Fungsi dan Sesuai Kebutuhan

Teman-teman setuju atau tidak setuju, saya tetap mengapresiasi tindakan Putin yang merasa biasa dengan perkembangan dagang dari perusahaan Microsoft. Terutama buat teman-teman yang belajar komputer secara otodidak dari minus sekalipun. Belajar komputer itu tidak harus mengikuti perkembangan dagang. Misalnya sekarang lagi nge-trend Windows 10 maka tidak mengapa belajar Linux sesuai distro kesukaan.

Secara pribadi saya sendiri dulunya adalah pengguna Windows XP sebelum beralih dengan Linux. Begitu juga dengan aplikasi yang pernah saya gunakan seperti; Adobe Photoshop, Illustrator, CorelDraw, SwishMax, Ms. Office, dan lain-lain.

Secara fungsi ada kesamaan dengan Photoshop, Illustrator dan Corel maka GIMP dengan PhotoGIMP serta Inkscape itu sudah cukup bagi saya yang bukan seorang desainer grafis. Karena kebutuhan untuk membuat gambar itu kadang-kadang dan hanya untuk keperluan pribadi. Terlebih lagi jika konsentrasinya tertuju ke ilmu jaringan komputer.

Sama halnya dengan seorang Presiden Rusia yang mungkin hanya membutuhkan komputer untuk menulis dan membaca laporan serta email. Maka apa faedahnya mengharuskan komputer dengan spesifikasi gamers dengan sistem operasi berbayar yang kekinian yang lumayan mahal? 

Upgrade Software? Itu Silahkan. Upgrade Skill? Ini wajib

Jika membaca opini saya di atas itu bukan berarti sudut pandang saya yang lainnya mengatakan bahwa saya termasuk yang antipati dengan pembaruan sistem.
 

Image source: me

Saya juga menyakini alasan pembaruan sistem adalah demi masalah keamanan. Artikel protokol kesehatan penggunaan PC agar aman dari virus komputer itu buktinya.

Dan itu memang benar hanya saja harus bijak sesuai kemampuan dalam penerapannya. 

Karena pembaruan sistem demi keamanan itu hanya salah satu faktor. Sedangkan faktor lainnya yang banyak dikesampingkan oleh orang biasanya penggunaan software bajakan.

Sehingga logikanya menjadi rancu ketika ada yang upgrade dengan alasan demi keamanan. Padahal ketika proses upgrade tersebut menggunakan software bajakan. 

Mengapa? Karena software bajakan itu salah satu faktor lainnya yang membahayakan keamanan sistem.

Mari kita bandingkan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan sikap kita. Karena setelah mendengar rilis versi terbaru semuanya sama-sama tergerak. Biasanya, yang mampu secara ekonomi upgrade dengan yang legal. Sedangkan yang tidak mampu pasti menggunakan software bajakan.

Padahal jika mereka mampu adaptasi sistem pada saat upgrade dari yang lama dengan versi baru setiap kali rilis. Mengapa mereka tidak mampu beradaptasi dengan cara migrasi sistem? Jika tidak bisa, berarti ada yang harus di upgrade juga dari sisi yang satu ini, yakni: Brainware.

Membajak Itu di Sawah Petani Bukan Membajak Software

Software adalah salah satu hak atas kekayaan intelektual yang dilindungi Undang-undang. Berbeda dengan membajak sawah, membajak software itu dilarang secara hukum, namun mirisinya 90 persen komputer di Indonesia berisi piranti lunak bajakan. Bahkan melansir dari cnnindonesia pembajakan di Indonesia lebih buruk dari China.

Image source: softpedia

Membaca berita tersebut mungkin sebagian besar orang Indonesia merasa biasa-biasa saja. Karena sesuai pengalaman pribadi tidak sedikit orang yang tidak mengerti software bajakan namun merasa tidak menggunakan software bajakan.

Contohnya ada yang cerita bahwa dia tahunya hanya membeli laptop dari toko komputer. Sedangkan softwarenya yang terdiri dari Windows 10, Office 2019, Photoshop, CorelDRAW, Dreamweaver dan AutoCAD itu sudah termasuk dalam pembelian laptop seharga 4-5 jutaan.

Dia membahasakannya:"Ini software semuanya asli dikasih sama pedagang".

Lain lagi cerita pengguna komputer yang mempunyai CD software program asli dari kantornya. Dia mengatakan:"Mau instal software asli ini saya pinjemin dari kantor".

Orang-orang di atas adalah cermin dari teman-teman kita yang tidak mengerti apa itu software bajakan. Karena meskipun software asli jika digandakan kepada orang lain maka itu bersifat bajakan apalagi tertulis di sana maksimal untuk berapa device dengan lisense key masing-masing.

Sekolah Bisa Salah Asuhan Meskipun Ia Bukan Panti Asuhan

Jadi, masalahnya ada yang salah dalam pendidikan karakter di sebagian besar dunia pendidikan formal kita. Selama belajar kita ditanamkan rasa tidak bersalah menggunakan bajakan dengan alasan untuk pembelajaran. Setelah itu kita dibawa sistem seolah-olah kudet kalau beda versi meskipun satu digit apalagi beda platform.

Akhirnya kita merasa bangga kalau komputernya sudah tampil dengan versi terbaru. Walaupun misalkan skillnya tetap saja tidak ada perubahan sama sekali. Sebagai contoh paling ringan itu kecepatan mengetiknya dari tahun ke tahun tidak pernah naik satu digit apalagi sampai atau melebihi 60 kata per menit.

Terlebih lagi jika kenyataannya software baru yang menjadi kebanggaan ternyata bajakan.

Padahal yang diutamakan upgrade itu dari sisi brainware yaitu pengguna komputer itu sendiri. Misalnya melalui pelatihan-pelatihan, workshop, seminar, training dan sertifikasi. Sedangkan software dan hardware itu kondisional dengan melihat isi kantong agar berimbang. 

Apalagi jika teknologi yang menunjang bisa free tapi powerfull serta tidak melanggar Undang-undang? Kalau ada teknologi yang seperti ini kenapa tidak? 

Simplenya, kalau kebutuhannya hanya untuk mengetik maka yang setara dengan Windows XP itu sudah lebih dari cukup. Jika kita tidak ingin menggunakan Windows XP karena terasa jadul. Alternatifnya ada pada distro Linux yang kekinian namun didesain khusus untuk mesin tua yang setara dengan Windows XP.

Dengan software sederhana tapi speed up to 60 kata per menit itu hasilnya lebih maksimal ketimbang menggunakan sistem operasi terbaru tapi speed rata-rata hanya 20 WPM. 

Membiasakan Yang Benar Bukan Membenarkan Kebiasaan

Kebiasaan menggunakan software bajakan selama sekolah sebaiknya jangan dibawa di dunia kerja. Karena bisa saja pada saat teman-teman menggunakan software bajakan tetapi menggunakan koneksi internet perusahaan. Ini dikhawatirkan yang teridentifikasi nanti perusahaan tempat dimana Anda bekerja. Setidaknya jika polisi datang itu sudah merepotkan waktu Anda.

Pengalaman kehati-hatian ini diterapkan oleh teman saya. Dia terpaksa membetulkan laptop rumahan milik rekan kerjanya di kantor perusahaannya.

Ketika saya berkunjung dan kebetulan dia sedang instal aplikasi bajakan laptop tersebut. Saya tanya:"Ini koneksi internetnya menggunakan jaringan dari perusahaan ini?" Dia menjawab:"Enggak, takut ada apa-apa saya. Ini pake tathering dari handphone sendiri".

Kemudian dia cerita pengalamannya di perusahaan yang dulu bagaimana BSA dan Polisi datang tiba-tiba lalu memeriksa setiap komputer.

Katanya, memang perusahaan tempat kerjaannya dulu tidak menerapkan kebijakan terhadap penggunaan software legal. Dan dia sendiri masih menggunakan beberapa software ilegal pada komputernya yang terhubung ke internet lewat koneksi jaringan perusahaan. 

Dan peristiwa yang menimpa perusahaan tempat dia bekerja dulu membuatnya was-was jika menggunakan komputer bajakan dengan koneksi internet perusahaan.

Kemudian saya menimpali:"Betul, atasan saya juga cerita beberapa hari sebelumnya mendapat telepon dari BSA. Lantas atasan saya menyuruh untuk cek kembali penggunaan software komputer termasuk milik client".

Oleh karena itu, buat teman-teman yang baru belajar komputer secara otodidak dari nol semoga bisa diingat.

"Belajar komputer tetap harus disertai belajar etika. Dan etika yang hampir hilang di kalangan pelajar dan pengguna komputer di sini adalah penggunaan software legal".

Buat yang merasa muda semoga tulisan ini menginspirasi. 
Baca Juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar