Pro dan Kontra Penggunaan ChatGPT Anak; Perspektif Seorang Blogger

Mengenalkan ChatGPT pada anak sekolah menjadi perbincangan yang menarik di kalangan netizen. Sebagaian ada yang pro namun ada juga yang kontra dengan gagasan tersebut. Salah satu alasan yang disebutkan yang pro yaitu: ChatGPT itu mendukung pembelajaran secara interaktif.

Terlebih lagi jika merujuk negara Cina yang konon sudah menerapkan penggunaan ChatGPT. Tidak tanggung-tanggung, yang terbaca pada salah satu surat kabar digital disebutkan bahkan untuk anak SD. Dengan demikian penggunaan ChatGPT juga bisa membuat efisiensi waktu ketika belajar di rumah.

ilustrasi pelajar bertanya pada chatgpt

Image by Alexandra_Koch from Pixabay

Sedangkan yang kontra juga mempunyai beberapa alasan yang dikhawatirkan menjangkiti peserta didik. Diantaranya adalah ketergantungan terhadap teknologi chatbot seperti ChatGPT. Meskipun dalam memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan yang sangat sederhana.


Pro dan Kontra Penggunaan ChatGPT Anak

Pada artikel kali ini saya ingin membawakan beberapa pandangan seputar penggunaan ChatGPT untuk anak. Pandangan tersebut pastinya terdiri atas dua jawaban: Pro dan Kontra; Dan ini sudah biasa terjadi ketika menyikapi masalah atau hadirnya teknologi baru.

Namun yang perlu digaris bawahi adalah; dua pendapat yang akan dijelaskan di sini terkait dua subyek. Yaitu subyek pertama adalah saya pribadi seorang Blogger yang memiliki anak. Dan pendapat lainnya yang dihadirkan yaitu chatbot itu sendiri yang ditanyai secara langsung sebagai subyek kedua.

Lalu bagaimana pendapat masing-masing dari dua kubu di atas? Sebagai seorang blogger yang terkadang mengambil manfaat dari software AI, berikut ini ulasan saya terkait hal tersebut.

Perspektif Pribadi Seorang Blogger

Sebagai seorang blogger namun tidak mewakili blogger lainnya. Saya pribadi termasuk tidak setuju dengan penggunaan chatbot untuk anak sekolah. Karena menurut saya masih ada yang lebih penting untuk dikenalkan lebih dulu. Apalagi jika kita ingin mengarahkan anak didik sesuai dengan kurikulum. Maka pendidikannya juga harus runut dan tidak melebar sesuai fantasi anak-anak ketika belajar padahal bukan bidangnya yang tepat untuk dipelajari saat itu.

Di sisi lain, seorang guru juga diharapkan mempunyai metode tersendiri. Adapun software merupakan alat bantu yang bisa didiskusikan dengan tenaga IT di sekolahnya masing-masing. Misalnya, software edukasi apa saja yang sesuai kematangan usia anak-anak didiknya? Jika tidak ada software yang bisa diunduh dari internet, apakah bisa sekolah/kementerian pendidikan membangun aplikasi sendiri?

Contoh lainnya adalah seputar sarana belajar berbasis information technology. Jika menyebutkan kata ini seolah-olah harus selalu menggunakan internet. Padahal, INTRANET juga bagian dari teknologi yang bisa dipelajari dan dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah masing-masing.

Dan ini hanya opini pribadi saja yang bisa dijabarkan lebih jauh. Namun secara sederhananya: "ChatGPT itu tidak dikenalkan saja dicari. Apalagi dikenalkan lebih dini pada anak sekolah. Apakah ini menjamin tidak akan timbulnya efek negatif pada generasi yang akan datang?"

Sebelum menjawab pertanyaan di atas alangkah lebih bijak lagi kita wawancara dulu orangnya. Ya, kita tanya terlebih dahulu apakah chatbot ini mendukung atau tidak? Lalu jika mendukung, apakah dengan prasyarat atau secara bebas? Dan inilah hasil copas jawaban ChatGPT ketika saya tanyakan:"Perlukah mengenalkan chatgpt pada anak?" Anggap saja ini hasil wawancara dengan robot yang digadang-gadang sebagai media pembelajaran interaktif zaman now.


Kata ChatGPT Sendiri Secara Langsung

Sebagai subyek kedua yang menjadi sumber dalam perdebatan seputar penggunaan ChatGPT untuk dunia pendidikan. Kemudian saya wawancara langsung robot ini dengan pertanyaan:"Perlukah mengenalkan chatgpt pada anak-anak?"

Setelah itu ChatGPT menjawab dengan panjang lebar sebagaimana saya pastekan di bawah ini.

Mengenalkan ChatGPT pada anak-anak dapat memiliki beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan. Meskipun ChatGPT dapat memberikan respons dan informasi yang informatif, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memperkenalkannya kepada anak-anak:

1. Konten yang sesuai

Pastikan bahwa konten yang dibicarakan dengan ChatGPT sesuai dengan usia dan kematangan anak-anak. Meskipun ChatGPT tidak menyajikan konten yang tidak pantas secara eksplisit, tetaplah berhati-hati dan pantau percakapan untuk memastikan anak-anak tidak terpapar pada konten yang tidak sesuai.

2. Ketergantungan pada teknologi

Menggunakan ChatGPT secara terus-menerus dapat memunculkan ketergantungan pada teknologi. Penting untuk memastikan bahwa anak-anak juga mengembangkan keterampilan interpersonal, bermain, dan berinteraksi dengan dunia nyata secara seimbang.

3. Pengawasan

Pastikan bahwa anak-anak menggunakan ChatGPT di bawah pengawasan orang dewasa. Ini akan membantu memantau konten yang dikonsumsi dan memastikan bahwa anak-anak tidak terlibat dalam percakapan yang tidak pantas atau berbahaya.

4. Edukasi tentang kecerdasan buatan

Berikan pemahaman kepada anak-anak tentang apa itu kecerdasan buatan (AI) dan batas-batasnya. Ajarkan mereka untuk tidak sepenuhnya bergantung pada ChatGPT dan untuk tetap memeriksa informasi dengan sumber yang diverifikasi.

5. Perlindungan privasi

Penting untuk menjelaskan kepada anak-anak bahwa ChatGPT adalah program komputer dan tidak memahami konteks secara emosional atau memiliki penilaian moral. Anak-anak perlu diingatkan untuk tidak memberikan informasi pribadi atau rahasia kepada ChatGPT.

Sebelum memperkenalkan ChatGPT pada anak-anak, penting untuk mempertimbangkan usia, kematangan, dan tingkat pemahaman mereka. Mengawasi dan berkomunikasi secara terbuka dengan anak-anak adalah kunci untuk memastikan penggunaan yang aman dan bermanfaat dari teknologi seperti ChatGPT.


Kata ChatGPT Sendiri Secara Langsung (Lagi)

Kemudian saya ulang lagi dengan satu pertanyaan lagi namun dengan konteks pertanyaan seperti berikut:"Perlukah mengenalkan chatgpt pada anak sekolah?" Dan jawabannya adalah sebagai berikut:

Keputusan untuk mengenalkan ChatGPT kepada anak-anak sekolah dapat bervariasi tergantung pada beberapa faktor. Berikut ini beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan:

1. Usia dan kematangan

Perhatikan tingkat usia dan kematangan anak-anak. Anak-anak yang lebih muda mungkin belum siap atau memahami sepenuhnya konsep di balik teknologi seperti ChatGPT. Pada usia yang lebih muda, lebih baik fokus pada pengembangan keterampilan sosial, kreativitas, dan pemahaman dunia nyata.

2. Tujuan penggunaan

Pertimbangkan tujuan di balik pengenalan ChatGPT kepada anak-anak. Apakah itu digunakan sebagai alat pembelajaran atau hanya sebagai hiburan? Jika digunakan sebagai alat pembelajaran, pastikan konten dan pertanyaan yang diajukan sesuai dengan kurikulum atau topik yang relevan untuk pendidikan mereka.

3. Pengawasan dan bimbingan

Jika memutuskan untuk memperkenalkan ChatGPT, pastikan bahwa anak-anak menggunakan dan berinteraksi dengannya di bawah pengawasan dan bimbingan dari guru atau orang dewasa. Penting untuk mengawasi percakapan mereka dan membimbing mereka dalam penggunaan yang aman dan bertanggung jawab.

4. Ketergantungan pada teknologi

Perhatikan potensi ketergantungan anak-anak pada teknologi. Meskipun ChatGPT dapat memberikan respons dan informasi yang menarik, penting untuk memastikan bahwa anak-anak tetap memiliki keseimbangan dalam kegiatan fisik, interaksi sosial, dan pengembangan keterampilan nyata.

5. Pendidikan tentang kecerdasan buatan

Penting untuk mengedukasi anak-anak tentang konsep kecerdasan buatan (AI) dan batas-batasnya. Jelaskan kepada mereka bahwa ChatGPT hanyalah program komputer dan tidak memiliki pemahaman emosional atau moral yang sebenarnya.

6. Privasi dan keamanan

Ajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga privasi mereka saat menggunakan teknologi. Beritahu mereka untuk tidak memberikan informasi pribadi atau rahasia kepada ChatGPT atau platform sejenis.

Pada akhirnya, keputusan untuk mengenalkan ChatGPT kepada anak-anak sekolah harus didasarkan pada pemahaman yang matang tentang tujuan, manfaat, dan risikonya. Penting untuk mempertimbangkan keseimbangan antara teknologi dan pengembangan keterampilan sosial, kreativitas, dan pemahaman dunia nyata dalam pendidikan anak-anak.


Penutup

ChatGPT jika diberikan pada seorang peserta didik bisa disalah artikan sebagai kamus contekan paling mujarab sepanjang zaman. Karena sejatinya, ChatGPT lebih tepat digunakan oleh para pekerja seperti creator conten, web developer, internet marketer atau blogger dan youtuber.

Adapun anak-anak yang masih menempuh jalur pendidikan bisa mendapat inspirasi tidak jujur dari sana. Bahkan untuk level mahasiswa pun pada akhirnya terbersit keinginan untuk membuat skripsi secara kilat melalui chatgpt berharap dapat salinan lengkap dan gratis.

Untuk itu, secara pribadi seorang blogger yang berkecimpung dengan blog tutorial. Anak-anak  juga lebih diarahkan ke software edukasi ketimbang chatgpt. Misalnya belajar menggunakan mouse dan bermain logika atau sekedar mengenal warna, huruf dan angka. 

Seiring perkembangan usianya, insya Allah juga dikenalkan pengetahun lainnya secara berjenjang. 

Sehingga kesimpulan yang bisa kita petik adalah lebih baik jangan. Usulan saya, jaringan internet di sekolah harus bisa memblokir layanan chatbot seperti ini ketika ujian berlangsung. Untuk memblokir nya,  divisi IT sekolah harus menggunakan router/firewall jaringan; seperti Fortigate dan Mikrotik.

Karena berdasarkan keterangan dari chatgpt sendiri memang boleh dikenalkan dengan anak-anak sekolah. Namun pada prakteknya harus sesuai berdasarkan faktor dan kriteria yang disebutkan di atas. Nah, kira-kira bagi yang pro penggunaan chatbot di sekolah ini apakah mampu sesuai arahan di atas?

Demikian, semoga bermanfaat.

Baca Juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar